Seni 'Break' Aktif: Mengenal Kebutuhan Jeda Duduk dan Bahaya Hidup Sedenter

Saat dunia berpijak pada era teknologi yang semakin berkembang serta akses jual beli semakin mudah melalui internet menjadi faktor yang cukup mencemaskan kesehatan. Liem (2024), mengatakan bahwa aktivitas yang sebelumnya membutuhkan tenaga yang besar kini dapat dilakukan dengan cara yang lebih mudah sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak energi. Adanya faktor tersebut akan mendukung seseorang untuk memilih gaya hidup sedenter yang tidak jarang dapat memicu masalah kesehatan serius apabila terus menerus dijadikan kebiasaan dan diabaikan risiko negatifnya. Menurut Sujibto (2022), malas gerak atau lebih akrab disebut 'mager' menjadi fenomena sosial yang semakin masif dan sering digunakan di kalangan anak muda untuk menggambarkan kurangnya aktivitas fisik.
Seni "break" aktif dalam konteks ini merupakan istilah yang menggambarkan bahwa betapa pentingnya jeda berkala seseorang sebagai proses pemanasan ketika sedang minim aktivitas, seperti dominasi aktivitas duduk atau berbaring dalam waktu lama, termasuk saat belajar, bekerja di depan komputer, atau menggunakan ponsel bersamaan dengan pengeluaran energi yang sangat rendah. Liem (2024), juga mengatakan bahwa tanpa disadari berbagai macam perilaku sedenter dilakukan baik di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun saat bepergian sehingga dapat berdampak terhadap kebugaran jasmani. Prastyawan & Pulangan (2022), menyatakan tingkat kebugaran jasmani dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menyimpan energi untuk melakukan aktivitas lain dalam waktu kosong dan memiliki energi yang cukup untuk melakukan aktivitas yang mendadak.
Risiko Negatif Gaya Hidup Sedenter
Anwar & Syaruffudin (2026), pada penelitiannya ditemukan bahwa gaya hidup sedenter dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai gangguan kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe 2, serta gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Sejalan dengan penelitian Nafi’ah & Hadi (2022), mengatakan bahwa gaya hidup sedenter dapat menyebabkan berbagai masalah gangguan metabolisme tubuh.
Secara fisiologis, duduk terlalu lama dapat menghambat kerja enzim yang berperan dalam metabolisme lemak dalam tubuh, di mana kadar lemak dalam darah juga meningkat tanpa diiringi asupan dan pengeluaran energi yang seimbang lalu terjadi penumpukan lemak atau biasa disebut dengan obesitas. Minimnya kontraksi otot karena kurangnya aktivitas juga menyebabkan penggunaan glukosa menurun dan memicu masalah kesehatan diabetes tipe 2. Selain itu, aliran darah yang terhambat akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner akibat pembentukan plak yang ada sepanjang dinding pembuluh darah.
Di luar dampak negatif fisiologis dan metabolik, aktivitas duduk terlalu lama juga memberi perubahan pada sistem muskuloskeletal, yang memengaruhi terjadinya pergerakan tubuh. Semakin lama tubuh berada pada posisi yang sama maka otot akan semakin menegang dan tekanan pada tulang belakang meningkat. Risikonya memungkinkan seseorang akan menderita kelainan postur tubuh, seperti kifosis atau forward head posture. Selain itu, penderita juga akan mengalami nyeri mulai dari leher, bahu, hingga punggung bawah.
Cara Efektif Meningkatkan Kualitas hidup Akibat Gaya Hidup Sedenter
Olahraga rutin sering dianggap mampu mengurangi risiko dari gaya hidup sedenter. Namun, kenyataannya olahraga yang dilakukan rutin tetapi dalam waktu singkat tidak akan memengaruhi apalagi menghilangkan dampak hidup sedenter sebagai kebiasaan sehari-hari. Oleh karena itu, tubuh memerlukan peregangan berkala agar sistem yang bekerja dalam tubuh tetap aktif.
Dengan demikian, efektifnya dapat dilakukan melalui peregangan sederhana yang mengurangi durasi duduk serta meningkatkan frekuensi gerak tubuh. Berdiri atau berjalan ringan setiap 30-60 menit merupakan salah satu peregangan efektif untuk menjaga kualitas tubuh dan meminimalisir timbulnya masalah kesehatan akibat gaya hidup sedenter jangka panjang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0







